BERITAUP2DATE.COM, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan bahwa penanganan Demam Berdarah Dengue (DBD) memerlukan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat upaya pengendalian penyakit yang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat setiap tahunnya.
Dr. Fajar SilalahiKetua selaku Tim Kerja Arbovirosis Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, menuturkan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri menghadapi persoalan ini.
Menurutnya, seluruh potensi dan sumber daya yang dimiliki masyarakat, baik dari unsur pemerintah maupun non-pemerintah, perlu disatukan dan disinergikan.
Baca juga:
Persib Bandung Lolos ke Fase Grup ACL 2, Usai Tumbangkan Manila Digger dengan Skor 2-1
"Kita perlu menggabungkan serta mengolaborasikan segenap potensi sumber daya yang ada, baik dari unsur pemerintah maupun non-pemerintah, untuk mempercepat terwujudnya masyarakat yang terbebas dari DBD," ucapnya dikutip dari tayangan Youtube Kemenkes.
Fajar menekankan bahwa pencegahan adalah kunci utama. Metode Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan prinsip 3M Plus menguras, menutup, mendaur ulang, dan mencegah gigitan nyamuk akan efektif bila dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.
Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi lintas instansi yang cepat saat kasus ditemukan di lapangan di lapangan.
Baca juga:
Sejarah dan Makna Hari Pramuka di Indonesia
"Respons yang cepat dan tepat dapat mencegah penyebaran lebih luas," lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Agus Handito dari Tim Kerja Arbovirosis, Ditjen P2P Kemenkes, menambahkan bahwa penguatan edukasi kepada masyarakat menjadi hal yang tidak kalah penting.
Menurutnya, penyampaian pesan pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan media massa, tetapi juga memerlukan aksi nyata di lingkungan masing-masing.
Baca juga:
Integrasi Database: Fondasi Utama Keberhasilan Business Intelligence di Era Ekonomi Digital
"Keterlibatan RT, RW, kader kesehatan, sekolah, dan tokoh masyarakat akan membuat pesan pencegahan lebih mudah diterima dan dilaksanakan," ujar Agus.
Dr. Agus Handito juga mengingatkan bahwa kegiatan pencegahan seperti gerakan 3M Plus harus terus digalakkan.
“Musim hujan menjadi masa yang rawan karena nyamuk Aedes aegypti berkembang biak lebih cepat. Tanpa langkah pencegahan sejak dini, risiko kenaikan kasus akan semakin besar,” jelasnya.
Ia memaparkan bahwa Dinas Kesehatan bersama Kemenkes telah menyiapkan sejumlah intervensi, termasuk fogging fokus, pemberian larvasida, dan pemantauan populasi nyamuk di wilayah rawan.
Berdasarkan data Kemenkes, tren kasus DBD di beberapa daerah masih berfluktuasi, dengan kecenderungan meningkat pada musim hujan.











